Anggap aja sekarang kita lagi duduk bareng di kafe favoritmu, atau mungkin di teras rumah sambil ngelihatin hujan, ditemani secangkir kopi hangat (atau teh, kalau kamu tim teh). Gue nggak tahu persis gimana hari-harimu belakangan ini, tapi kalau sampai buku ini ada di tanganmu, ada kemungkinan besar kita punya satu kesamaan: kita berdua sering merasa lelah.
Lelah karena apa? Macem-macem. Bisa karena tuntutan pekerjaan, drama pertemanan, omongan tetangga, postingan di media sosial, atau bahkan ekspektasi dari diri sendiri yang ketinggian. Rasanya kok, di dunia ini, kita dituntut buat jadi "serba bisa dan serba disukai". Harus selalu senyum, selalu "iya", selalu ada buat semua orang. Kalau nggak, takut dicap nggak enak, takut bikin kecewa, takut nggak disukai. Betul?
Pernah nggak sih, kamu merasa terjebak dalam lingkaran "please everyone" sampai lupa sama diri sendiri? Sampai energi terkuras habis, pikiran mumet, dan hati rasanya nggak tenang? Nah, kalau iya, berarti kamu nggak sendirian. Dan kabar baiknya, buku ini hadir bukan untuk nambahin bebanmu. Justru sebaliknya.
Buku ini bukan teori berat yang bikin dahi mengernyit. Nggak ada istilah-istilah ilmiah yang bikin ngantuk. Ini lebih kayak sesi curhat bareng, ngobrol santai sambil ngopi, mencoba membongkar kenapa sih kita sering merasa harus menyenangkan semua orang, dan gimana caranya biar kita bisa kembali tenang. Karena pada akhirnya, ketenangan diri itu jauh lebih berharga daripada tepuk tangan dari orang lain yang kadang cuma sebatas basa-basi.