Hai, apa kabar? Lagi apa nih? Kebayang kan, kita sekarang lagi duduk santai, mungkin di kafe favorit, atau di teras rumah sambil ngopi/ngeteh anget. Anggap aja ini lagi hangout bareng, ngobrolin hidup yang kadang suka bikin pusing tujuh keliling.
Gue mau cerita nih, kenapa tiba-tiba kepikiran bikin buku tentang “Terserah”. Jujur aja, dulu gue termasuk orang yang ngotot banget sama banyak hal. Pengen semua sesuai rencana, harus sempurna, dan kalau ada yang melenceng sedikit aja, rasanya udah mau meledak. Pernah gak sih lo ngerasain gitu? Kayak lagi pusing mikirin mau makan apa, udah nanya teman A, B, C, D, eh ujung-ujungnya jawaban mereka “terserah”. Nah, itu dia! Kadang kata yang paling sering kita anggap sepele dan bikin jengkel ini, justru bisa jadi kunci buat hidup lebih santai.
Banyak dari kita yang salah paham sama kata “terserah”. Dikiranya itu sinyal nyerah, gak peduli, atau bahkan males. Padahal, yang mau kita bahas di sini, “Terserah” itu justru sebuah kekuatan. Kekuatan untuk melepaskan beban yang nggak perlu kita pikul, kekuatan untuk menerima hal-hal di luar kendali kita, dan kekuatan untuk menemukan kedamaian di tengah ketidakpastian hidup. Ciahhh….